Sejumlah Budayawan Bogor Kritik Pembangunan Jalan Baru di Batutulis yang Berpotensi Mengancam Keberadaan Cagar Budaya

 

KOTA BOGOR, HARIAN SUARA RAKYAT – Sejumlah budayawan Kota Bogor bersatu menyuarakan kritik keras terhadap rencana pembangunan jalan baru pengganti Jalan Saleh Danasasmita, Batutulis, Bogor Selatan, yang amblas beberapa bulan lalu. Mereka menilai proyek tersebut berpotensi mengancam keberadaan situs cagar budaya dan sejarah, salah satunya Sumur Tujuh yang berada di dekat makam keramat Embah Dalem.

 

‎Para budayawan menegaskan, pembangunan infrastruktur memang penting demi menjawab kebutuhan masyarakat atas akses jalan yang lebih layak, namun tidak boleh dilakukan dengan cara yang mengorbankan cagar budaya peninggalan leluhur Pajajaran.

 

“Kami sepakat jalan ini perlu segera dibangun, karena masyarakat kesulitan akses. Tapi pemerintah tidak boleh abai terhadap pelestarian situs leluhur. Kalau jalan dipaksakan melewati Sumur Tujuh, itu sama saja menghancurkan bukti sejarah,” tegas Lufti Suyudi, perwakilan budayawan, saat ditemui di lokasi sumur tujuh Mbah Dalem Batutulis.bersama sejumlah Tokoh Budayawan, Senin (25/8).

 

‎Budayawan Menilai Kajian Cacat

 

Kekecewaan para budayawan kian memuncak setelah mengetahui kajian rencana pembangunan tidak melibatkan unsur budayawan dan tokoh masyarakat adat. Mereka menduga kajian yang ada disusun terburu-buru, tanpa memperhatikan aspek perlindungan cagar budaya.

 

Para budayawan pun menegaskan penolakan terhadap jalur yang dirumorkan melewati kawasan Sumur Tujuh, sekaligus mendesak pemerintah mencari alternatif lain yang tidak merusak situs peninggalan sejarah.

 

Mereka juga menuntut agar proses kajian pembangunan sejak awal melibatkan budayawan, sejarawan, dan arkeolog, sehingga keputusan yang diambil tidak hanya berpihak pada kepentingan transportasi tetapi juga menjaga kelestarian warisan leluhur Pajajaran.

 

Budayawan menekankan bahwa kebutuhan masyarakat akan jalan yang memadai memang mendesak, namun pemerintah tetap memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk melestarikan situs sejarah.

 

“Bogor ini Kota Pusaka. Jangan sampai pembangunan menimbulkan konflik, tetap jaga silihwangian. Kota Pakwan Pajajaran bukan hanya milik Bogor, tapi milik Nusantara yang harus dijaga nilai-nilai tradisi dan kearifan lokalnya,” tegas Lufti menambahkan.

 

Lutfi pun menegaskan, pembangunan jalan itu kewajiban pemerintah untuk masyarakat. Tapi menjaga warisan sejarah juga kewajiban negara. Jangan sampai generasi kita kehilangan bukti peninggalan leluhur karena proyek yang salah arah.(Ry/Editor: Redaksi)

 

Bagikan Berita/artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *